Berbicara kuliner, banyak faktor yang membuat pembeli datang kembali. Bahkan datang kembali dengan mengajak teman/saudara-saudaranya. Salah satu faktor yaitu umur kuliner tersebut, rasa, dan pelayanan.

Baru-baru ini, saya kembali untuk kesekian kalinya ke warung kecil penjual es. Nama warungnya, Es Tempo Doeloe Said dengan bangku panjang berwarna biru yang berada di sisi kiri Masjid An-Nur Kota Batu. Said sosok kakek yang telah berumur sekitar 78 tahun.

“Bapak sekarang umur berapa?” “Ora apal (tidak hafal) mas, kalau gak lihat catetan. Yo kurang lebih 78.” Warung ini sederhana. Namun jika berbicara masalah sejarah, konsisten dan rasa, warung ini tidaklah kalah dengan yang lain.

Sejarah dan konsistensi Said

Said telah berjualan sejak 1954. “Bapak sudah berapa lama jualan ini?” “Sudah 62 tahun, sekarang mau 63 tahun,” ucapnya.

Dahulu warungnya tidak di sini, tapi di dekat kantor pos, di bawah pohon beringin. Letaknya berada di halaman Masjid An-Nur.

Dahulunya halaman Masjid An-Nur ditempati tiga bangunan: menghadap ke barat adalah Kantor Telepon dan Telegram, lalu di tengah Kantor Pos. Serta bangunan yang sebelah timur adalah Pom Bensin.

Ini Pak Saidi bapak penjual es campur tempo doloe yang letaknya di samping kanan Masjid Annur Kota Batu. .. Sudah beberapa kali saya beli es beliau. Dan baru siang tadi, berbincang sama beliau. .. Pak umur berapa? "Ora apal lalek ora dilok catetan. Yo kurang lebih 78 (Tidak hafal, kalau tidak lihat catatan. Ya kurang lebih 78). 😮😮 Terus sudah jualan berapa lama? "62 tahun mas. Sak iki kate 63." 😮😮😮 . . Umur segitu beliau masih bekerja. Pagi buka sore tutup. Hem… .. Yang bikin saya tertampar sama beliau. Saat pertama kali makan disini. Saat itu adzan berkumandang. "Aku kate solat sek mas." Beliau sambil menutup lapaknya. .. Hem… inspirasi banget buat saya. Beliau meninggalkan pembeli untuk shalat. Dan seharusnya memang begini dalam berdagang itu. Maupun dalam hal lain. Bahwa kita harus seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. . . Saya pun akhirnya langsung shalat dulu. Baru beli es beliau 😋😍😍😍. . Es. Nya enak dan terjangkau. 5rb saja per porsi. 🍧🍧🍧🍧🍧 . #zenfone3 #zenfoneid #travel #kuliner #kulinerbatu #stretphotography #stret #blogger #liputan #masjid #mosque

A post shared by Sandi Iswahyudi (@sandi.iswahyudi) on

Kemudian pada 1982 Pasar Besar Kota Batu yang dahulu terletak di alun-alun terbakar hebat. Para pedagang mencari tempat untuk tetap berjualan. Salah satunya Said yang berpindah ke sisi kiri Masjid An-Nur, yang sampai sekarang ditempati.

Jika Anda nanti ke Kota Batu, sempatkanlah berkunjung ke warung ini. Anda akan menemukan tempat yang tetap sama. Tomples kaca khas—sekarang sudah jarang dijual—sebagai tempat bahan-bahan untuk membuat es.

Serutan es yang masih sama, dan beberapa lebah yang berkeliaran di antara toples-toplesnya. Santai tak perlu takut, selama Anda tidak mengganggu, Anda tidak akan disengat. Selain itu lebah menyukai bahan-bahan yang baik. Sehingga kalau ada bahan kimia, lebah akan lari.

Rasa dan pelayanan yang sama serta menggoda

Harganya terjangkau, tetap Rp 5.000,-. Tidak ada kenaikan walau barang-barang banyak yang naik. Es dengan harga terjangkau dan rasa nikmat.

Rasanya juga enak, pas, dan cocok dinikmati ketika siang menyengat. Pelayanan pun tetap sama. Beliau biasanya ketika ada pembeli datang, langsung tanya.

“Le dibongkos opo mangan kene (Nak dibungkus atau makan sini)?”

Ten mriki pak (di sini pak).”

Dengan cekatan, beliau langsung menyiapkan es tempo doeloenya yang spesial. Memasukkan kacang hijau, kolang-kaling, dan bahan-bahan lainnya di dalam mangkuk. Kemudian menyerut es, dan memasukkannya. Terakhir, memberikan sentuhan penutup berupa susu cokelat atau putih sesuai pilihan pelanggan. Es siap disantap.

 

Pelayanan lain yang tidak biasa. Setiap adzan, tanda memasuki waktu shalat. Beliau akan menutup warungnya. Untuk melaksanakan shalat, walau ada pembeli.

Pernah dahulu saya ke sini pas adzan berkumandang, beliau langsung bilang, “Aku kate solat sek mas (Aku mau shalat dulu mas).”

Seketika saya terasa tersadarkan, jika sebagai muslim, ketika adzan berkumandang harus segela menuju panggilan-Nya. Saya langsung menuju Masjid An-Nur baru kemudian ke sini, untuk pesan esnya,  .

“Alhamdulillah, nikmat esnya.”

Dari perjalanan ini, saya dapat pelajaran jika konsisten itu perlu, untuk menunjukkan siapa kita. Walau tanpa brand yang keren, kita bisa dikenal orang lewat konsisten dengan nilai-nilai yang diterapkan.

Es Tempo Doeloe Said Kota Batu

Harga per porsi Rp 5.000,-

Buka pagi-sore. Tiap waktu shalat, tutup

TINJAUAN IKHTISAR
Pelayanan
Tempat
Harga
Rasa
BAGIKAN
Berita berikutnya(Vlog) Pesona Wisata Paralayang Kota Batu, Tetap Eksis Hingga Sekarang
Sandi Iswahyudi seorang Local Brand Enthusiast #BloggerMalang | traveler yang bermimpi keliling Indonesia | FIM 18 | video animator & internet marketing. Menerima kerja sama review produk, liputan khusus atau pelatihan blog. Kontak di 085755711079 (WA/Tlpn) atau email ke iswahyudi779@gmail.com. Blog personal sandiiswahyudi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here